The Raids: Perkenalan


Kampus tempat The Raids berasal via ceph.org

Jakarta, 17 February 2012. Salah satu kampus terbesar dan dan termodern di Indonesia ada di Jakarta. Dibangun atas inisiatif salah satu dari orang terkaya di Asia asal Indonesia, universitas yang kemudian disebut National University ini langsung menjadi incaran orang-orang paling cerdas dari seluruh negeri. Tapi, yang membuatnya istimewa bukanlah segala fasilitas canggih ataupun kemampuannya dalam mencetak lulusan yang siap bersaing secara internasional, melainkan dari universitas inilah kelompok yang disebut-sebut sebagai “musuh baru para kriminal” berasal.

Mereka bukanlah polisi Mereka juga bukan pasukan khusus yang dibuat pemerintah kota Jakarta untuk memberi rasa aman kepada warganya. Menurut kabar yang beredar, meraka cuma sekelompok anak muda yang turun ke jalan dan membantu warga dengan caranya sendiri. Oleh media-media besar di Jakarta, kelompok ini disebut The Raids. Alasannya jelas; mereka ingin membersihkan kota dari tangan orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

“Hei, lihat aksi kita muncul lagi di koran KOMPAS. Kalau aku memperlihatkan diri, mungkin aku bisa jadi terkenal dan bermain di film”. Ujar salah satu anggota The Raids yang bernama Raden. Dia biasa dipanggil Aden tapi orang-orang diluar sana menyebutnya Kilat, karena saat beraksi, dari tanganya selalu terlihat kilatan-kilatan listrik dari tangannya.

“Dengan kemampuanmu itu, aku rasa kamu cuma akan menjadi stunt man. Cuma melompat kesana kemari tanpa wajahmu pernah ada di layar.” Kali ini seorang perempuan remaja berumur sekita 20 tahun yang menjawab. Media cetak dan elektronik menyebutnya Mawar, karena dalam setiap aksinya dia selalu memakai pita mawar berwarna mencolok di kepalanya. Nama aslinya Tribhuwana, tapi dia lebih suka dipanggil Tri.

“Ayolah. Tidak bisakah kamu mendukung passion-ku sekali saja. Begini-begini aku cukup jago urusan akting”.

“Kalau yang kamu sebut jago itu adalah saat kamu gagal berpura-pura sebagai pengemis dan hampir mengacaukan seluruh rencana awal, aku sangat setuju denanmu. Hahahaha….”

Wajah Aden tampak kesal. Dia tidak menyangka kalau Tri akan mengejeknya seperti itu. Tiba-tiba alarm dari komputer Aden berbunyi. “Anak-anak, kita pekerjaan yang menanti untuk diselesaikan. Bersiap dan segera pergi ke daerah Stasiun Kalibata. Ada perampokan di salah satu gerbong” Kata Pak Bambang atau yang biasa disebut Batu karena tubuhnya besar dan kuat.

“Tunggu. Sejak kapan kita menangani kasus perampokan? Tidak biasanya kita mengurusi dompet seseorang” Kilat masih bingung karena tidak biasanya The Raids menjalankan misi seperti ini.

“Bukan perampokannya yang jadi masalah tapi siapa yang dirampok. Kau tau kalau walikota akan melakukan kunjungan ke stasiun siang ini? Dialah yang menjadi target”

“Jangan banyak bicara anak-anak. Tetap fokus pada tugas masing-masing. Kilat, kau jaga sistem keretanya. Pastikan transportasi tidak terganggu. Aku dan Mawar akan mengintai.

Seperti biasa, dengan kemampuan memanipulasi listriknya, Kilat bisa melakukan hacking dengan sempurna. Walaupun tidak pernah mendapat pelatihan khusus soal IT, kemampuannya itu membuat Kilat menjadi jenius komputer. “Semua aman. Seluruh kamera pengawas tidak ada yang menunjukkan tanda-tanda orang mencurigakan”.

“Bagus. Jangan lepaskan pandangan matamu ke kamera. Mawar bagaimana keadaan di sekitar stasiun?

“Keadaan aman. Semua terkendali. Tunggu!! Batu, gerombolan walikota datang. Mereka ada satu….dua….lima orang. Tapi, Pak walikota tidak ada!!! Walikota tidak ada”

“Kilat, apa yang terlihat di kamera pengawas?”

“Semua aman. Tidak ada yang mencurigakan” Tanpa disadari Kilat, tiga orang berpakaian rapi mendatangi Kilat. Mereka bersenjata dan bersiap menembak kepalanya. Untungnya, kemampuan listriknya bisa membuat panca inderanya bereaksi lebih cepat dari orang biasa. “Siapa kalian?”

“Kilat, apa yang terjadi? Ada serangan di bagian pengawas stasiun. Butuh bantuan sekarang”

“Mawar, kamu masuk ke stasiun. Tetap waspada. Aku akan membantu Kilat.”

“Siap. Pak”

Sesampainya disana, Kilat sudah tergeletak. Dia tidak sadarkan diri. “Kilat. Bangun, nak!!”

Batu dan Mawar membawanya ke Kampus National University. Bagi orang-orang awam, kampus ini mungkin cuma terlihat sebagai tempat menimba ilmu, tapi sebenarnya Kampus ini juga adalah markas dari The Raids.

“ohhh….kepalaku masih sakit” Kilat aka Aden sudah sadarkan diri. Sepertinya, Kepalanya terkena pukulan yang cukup keras.

“Bagaimana keadaanmu, nak?”

“Sudah cukup baikan. Tapi, siapa orang-orang itu sebenarnya?”

“Kenapa kau tidak menyetrum mereka saja, sih?”

“Kalau aku bisa, aku juga akan melakukannya. Sayangnya kemampuan ini cuma meningkatkan kemampuan saraf-sarafku saja. Kau tau, jaringan saraf kita itu seperti….”

“jaringan listrik yang menjalar di seluruh bagian tubuh. Aku sudah tau. Kau sudah menjelaskannya ratusan kali.”

“Kalau sudah tau kenapa masih tanya”

“Maksudku, kenapa kamu tidak meningkatkan listriknya untuk menyerang daripada menggunakannya untuk mengetik di komputer”

“Aku lebih menghargai otak dari pada otot. Apalagi di era informasi seperti sekarang, menjadi hacker sepertinya lebih menjanjikan daripada menjadi tukang pukul macam kamu” Jawaban Aden membuat Tri jengkel. Mereka memang terlihat tidak cocok satu sama lain tapi justru dari situlah mereka bisa saling merasakan keakraban.

“Sudah cukup bertengkarnya. Aden, Tri lihat ini” kata Pak Bambang sambil menunukkan Harian SINDO. “Disini dikatakan kalau kemarin, Pak walikota sebenarnya sedang ada kegiatan di luar kota. Dan beliau dijadwalkan akan tiba pada jam 13.00 di  Stasiun Kalibata.”

“Dan 15 menit sebelumnya, aku diserang segerombolan orang yang terlihat seperti pengawal walikota”.

“Lalu, bagaimana keadaan walikota sekarang?”

“Dari laporan terakhir beliau belum ditemukan”.

Aden tampak berpikir sebentar. Wajahnya tampak seperti berusaha mengingat sesuatu. Tak beberapa lama dia menuju komputernya dan mengetik sesuatu dengan cepat. “Pak Bambang, Tri, coba lihat. Pak walikota tidak jadi turun di Kalibata. Ini rekaman dari stasiun Kalibata kemarin dan tidak ada tanda-tanda Pak walikota turun dari kereta”

“Berarti Pak walikota diculik. Tapi kemana?”

“Putar ulang rekamannya, nak. Kita perhatikan lebih teliti lagi”. Aden mengetik komputernya dan melihat komputernya berulang-ulang. “Aneh. Tidak ada yang mencurigakan”

“Tunggu. Bagaimana kalau kita juga memeriksa stasiun setelah dan sebelum Kalibata. Siapa tau kita dapat petunjuk” Dengan secepat kilat, Aden mengutak-atik komputernya. Dia mencoba meretas kamera pengawas dari stasiun Cawang dan Pasar Minggu.

“Dapat. Coba lihat ini. Dari Stasiun Cawang, ada 10 gerbong kereta. Tapi saat sampai di Kalibata, cuma ada 9 gerbong. Di gerbong yang hilang itu pasti ada walikota”

“Pengamatan yang Bagus Tri. Aden lakukan pencarian komunikasi sekitar stasiun Cawang”

“Dapat. Gerbongnya tadi malam memang tertinggal di stasiun Cawang tapi paginya, semua sudah dibereskan petugas dari  PT KAI Commuter Jabodetabek.”

“Ayolah. Kita perlu tau sekarang itu dimana lokasi pasti Pak walikota”

“Tidak bisakah kamu sedikit bersabar. Apa serunya pencarian kalau sesuatu yang hilang cepat ketemu”. Aden aka Kilat kembali bermain-main dengan komputernya. Tampaknya dia sedang mencoba mengikuti jejak sinyal telepon terakhir disana.

“Kau cerdas, nak. Mereka tidak akan tergesa-gesa mengeluarkan orang sepenting walikota di tengah keramaian. Mereka pasti menunggu sampai kereta terakhir untuk melakukannya”

“Kau lihat. Metodeku cukup jitu, kan?” Mendengar perkataan Kilat, Mawar aka Tri hanya bisa tersenyum kecut.

Sinyal telepon terakhir terlacak memang berada disekitar stasiun Cawang. Tepatnya ada di Gedung milik PT Inti Karya Persada Teknik. Stasiun Cawang dan Gedung PT Inti Karya Persada Teknik cuma berjarak 600 meter saja.

“Menurut perhitunganku, cuma perlu waktu 5 menit dengan mobil untuk pergi kesana.”

“Dan perkiraan itu tidak memperhitungkan macet?” Jawab Mawar menimpali.

“Kejadian itu terjadi pukul 11.30 malam. Pada jam segitu, jalanan memang tidak terlalu macet. Kerja bagus anak-anak”

“Tapi itu sudah terjadi malam tadi. Bisa saja mereka sudah pergi”

“Tidak mungkin. Dari catatan waktu percakapan terakhirnya, mereka baru akan pergi jam 10 malam ini”

Tanpa membuang waktu lagi mereka bertiga langsung bersiap dan pergi ke lokasi yang dituju. Sebagai tenaga bantuan mereka juga meminta bantuan dari kepolisian setempat.

“Semua siap diposisi masing-masing. Tugas kita cuma mengulur waktu mereka sebelum polisi datang. Hindari kontak fisik yang tidak perlu. Kilat, kau berjaga di lantai atas. Matikan semua kamera pengawas. Mawar, tugasmu masuk dan menyelamatkan walikota dalam diam. Aku akan menyerang dari depan dan mengalihkan perhatian mereka”. Mendengar instruksi itu, Mawar dan Kilat segara bersiap ke posisi masing-masing.

Yang masuk pertama kali adalah Kilat. Dengan tubuhnya yang lincah, dia bisa masuk dan menyelinap dengan cukup mudah melewati beberapa penjaga yang sedang mangawasi. “Mawar, giliranmu. Aku sudah ada di dekat ruang kontrol. Tempat walikota disekap ada di lantai 3 lalu masuk ke ruang gudang. Batu, siap-siap mengalihkan perhatian. Kamera pengawas sudah dimatikan”.

Untuk mengalihkan perhatian, Batu masuk dengan nekatnya dari pintu depan. Penjaga yang melihatnya langsung menyerangnya. Batu melawan sekitar 6 orang yang berpakaian seperti pengawal walikota. Karena memang sudah terlatih, dia dengan mudah dapat melumpuhkan keenam orang penjaga itu.

“Sudah kuduga. 6 orang saja sepertinya memang tidak cukup untuk mengalahkan satu anggota The Raids. Tapi bagaimana kalau seperti ini, salah satu anggota The Raids yang paling kuat harus memilih antara anggotanya atau si pemimpin kota, mana yang akan dia pilih?” Tiba-tiba tampak seorang berpakaian rapi yang wajahnya ditutupi topeng. Dia menahan Kilat dan Mawar dalam satu sel dan walikota yang pingsan di sel yang lain. Di setiap sel, ada seorang yang memegang pistol yang siap menembak kepala ketiga orang itu. Selain itu, Batu juga dikepung oleh sekitar 7 orang lagi.

“Jangan main-main. Cepat lepaskan mereka!!”

“Oh, sayang sekali. Hidup mereka bertiga ada di tanganmu sekarang. Kau harus memilih mana yang harus diselamatkan. Teman-teman kecilmu ini atau si walikota yang tidak becus ini. Permainannya mudah, kau cuma harus menyebut salah satu nama dan permainan selesai”

Batu tampak bingung. Mana yang harus dia pilih, kelompoknya atau walikota. “Satu hal lagi. Kau cuma punya waktu 5 menit untuk memikirkannya. Kalau dalam 5 menit kau tidak memilih, mereka semua akan mati tepat di depan matamu. Jadi, pikirkan baik-baik, ya”

“Sial. Waktuku semakin habis”

“Mungkin kau seharusnya lebih memperhatikan penjagaan disekitar gedung ini supaya orang-orang sepertiku tidak bisa masuk sembarangan”. Seseorang dari pintu depan berkata dengan lantang. Dia juga tampak mencolok karena memakai jaket berwarna merah dengan tudung yang menutupi wajahnya. Dia juga memakai sarung tangan yang juga berwarna sama.

“Si…siapa kau? Penjaga, tangkap penggangu itu!!”

Ternyata, orang itu juga memiliki kekuatan khususnya sendiri. Tangannya bisa mengeluarkan api. Dia memukul mundur para penjaga yang menyerangnya dengan menyemburkan api tepat di hadapan mereka. Dia juga melemparkan bola-bola apinya ke penjaga yang ada di dekat sel. “Sekarang selamatkan mereka!!”

Tanpa perlu berlama-lama lagi, Batu menyerang penjaga yang tersisa dan mengeluarkan Mawar dan Kilat. Dia juga mengeluarkan Pak walikota. Tidak lama kemudian, Mawar dan Kilat terbangun dan membantu orang tadi. “Mawar, Kilat sepertinya kita mendapat teman baru”

Mereka berempat bersama-sama menyerang orang-orang suruhan si orang bertopeng. Merasa sudah terdesak, si orang bertopeng pun berusaha kabur. Mawar yang mengetahui hal itu langsung mengejarnya. “Mau kemana kau, penjahat atau kalau aku boleh bilang Bapak wakil walikota?”

Merasa terkejut mendengarnya, si orang bertopeng langsung menodongkan pistol ke arah Mawar dan menarik pelatuknya. “Kau jangan berbicara macam-macam, ya” Dooor……dooorr….doorrr….

Dengan tubuh yang sudah terlatih seperti tentara di pasukan khusus, Mawar masih bisa bersikap tenang dan menghindari pelurunya. Dengan cepat dia juga mendekati si orang bertopeng dan memukul perutnya. “Masih mau tidak mau mengaku?” kata Mawar sambil membuka topeng hitam yang membungkus wajah si penjahat. Dan benar saja, itu adalah si wakil walikota. Tidak lama kemudian, rombongan polisi datang dan membawanya ke kantor polisi.

“Bagaimana kalau nanti dia berbohong dan bebas dari tuduhan?”

“Tenang saja, Batu. Kilat sudah mengirim semua bukti rekaman yang dia temukan ke kantor polisi. Dia tidak akan bisa mengelak di hadapan bukti itu”

“Untuk kali ini, kuakui kau cukup cerdas, Mawar. Tebakanmu tepat. Kekuasaan memang bisa mengubah seseorang”

“Itu bukan tebakan tapi hasil analisis. Dia ingin menjadi walikota, tapi tidak punya cukup pengaruh. Jadi dia memilih menjadi wakilnya. Dan bayangkan siapa yang akan menjadi walikota kalau walikota yang sekarang mati?”

“Kali ini aku setuju dengan Kilat. Didikanku ternyata tepat”

“Yang jadi pertanyaan adalah siapa orang berapi yang tadi membantu kita. Kenapa dia sekarang menghilang?” Kilat merasa bingung. Ternyata ada orang dengan kemampuan yang mirip dengan dirinya. Hal itu cukup mengusiknya. Sejak saat itu, Kilat terus mencari petunjuk dari orang yang kadang muncul saat The Raids mendapat kesulitan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s