The Raids: Permulaan


Kota Jakarta via keiretsuforum.com

Jakarta, 15 Januari 2016. Jakarta bukan lagi ibu kota negara Republik Indonesia. Posisinya sudah direbut Kota Balikpapan yang lebih tenang. Tujuannya jelas: supaya keadaan Jakarta tidak menjadi lebih buruk karena pusat pemerintahan dan ekonomi ada di satu tempat. Transisi itu sudah berlangsung sejak beberapa tahun lalu. Walaupun begitu, kota yang cantik dan penuh nilai historis ini masih tetap mempesona ratusan atau bahkan ribuan orang untuk datang mencari rezeki. Ya, sebagai jantung perekonomian negeri, Jakarta masihlah tempat dimana uang berpindah tangan dengan cepat.

Perputaran uang yang cepat itu kadang tidak selalu berdampak baik. Ada kalanya, inilah yang membuat sifat-sifat buruk manusia bermunculan. Kriminalitas, mulai dari kalangan bawah sampai atas, dari yang berpakaian compang-camping sampai yang selalu berjas, semua orang bisa menjadi kriminal di kota ini. Dan saat polisi kehilangan tajinya, sebuah kelompok misterius yang menamakan dirinya The Raids, menjadi penyelamat orang-orang sekaligus mencoreng muka kepolisian.

“Apalagi yang kita tunggu. Cepat pergi sebelum ada yang datang dan menangkap kita”.

“Kau mengkhawatirkan polisi? Mereka tidak akan sampai kesini tepat waktu. Tenang saja. Kemacetan akan menghambat mereka.”

“Bukan polisi yang aku takutkan, tapi mereka.”

Kedua orang itu menoleh ke atap Bank INI. Tampak tiga orang sudah siap memberi kedua perampok ini pelajaran.

“Si…..Siapa kalian?”

“Kami cuma nasabah biasa yang kebetulan lewat.” kata seorang laki-laki muda dengan kilatan petir ditangannya.

“Dan kami tidak suka ada yang mengambil uang kami sembarangan” tambah seorang perempuan dengan tongkat dan penutup mata di mata kirinya.

“Serahkan kantong-kantong itu dan kalian bisa pergi dengan bebas”. Kali ini seorang laki-laki dewasa bertubuh kekar yang ganti bicara. Tampaknya, dialah pemimpinnya

“Tidak akan!!!!!” Bukannya menyerah mereka malah menembaki ketiga orang itu. Sayangnya, ketiganya adalah orang terlatih. Tembakan seseorang yang dalam tekanan tidak akan membunuh mereka.

“Matilah kalian!!! Matilah kalian!!!” Dia terus menembak kesana kemari tanpa arah. Mungkin karena takut.

“Hei. Sudahlah. Lebih baik kita pergi”

“Tidak akan. Aku sudah muak dengan tingkah sok jagoan mereka”. Karena terus menembak tanpa arah, pistolnya kehabisa peluru. Dan itu adalah saat yang tepat untuk menyerang balik. Ketiga orang itu bergantian mengahajar si perampok. Tak lama, perampok itu pun menyerah kalah.

“Seharusnya kau dengarkan rekanmu untuk segera kabur, bukannya melawan”

“Tunggu sepertinya kita melupakan perampok satunya”

“Temukan dia. Sekarang!!” Perintah si pemimpin kelompok.

“Huh….huh……Aku sudah mengajaknya lari. Tapi dia tidak mendegarkan. Bukan salahku kalau dia sampau mati”. Rekan si perampok sudah lari cukup jauh dan bersembunyi di belakang salah satu rumah penduduk.

“Siapa yang mati?” Tiba-tiba terdengar suara seorang pemuda yang menganggu si perampok. Karena merasa ketakutan, dia langsung menyarangkan pukulan kearah si pemuda. Dengan reflek yang cepat, dia menghindari pukulan itu. Dia tidak balas memukul, yang dia lakukan cuma menghindar dan menangkis pukulan. Lama kelamaan, si perampok itu mulai terihat lelah.

“Kau sudah lelah. Mari kita akhiri saja”. Berbeda dengan yang tadi, si pemuda ganti memukul perut si perampok. “Buuukk…” Suaranya terdengar. Si perampok tidak sadarkan diri. Tidak lama, The Raids, datang.

“Hei……!!! Aku sudah menangkapnya untuk kalian, lho”. Si pemuda pergi menghampiri The Raids dan bahkan memperkenalkan dirinya. “Aku Mulawarman. Panggil saja Arman. Aku cuma membuatnya pingsan, kok. Wowww……Aku sangat bersemangat karena bertemu kalian disini”

“Oke. Sudah cukup perkenalannya. Terima kasih atas bantuanmu yang tidak seberapa ini. Tapi kami harus pergi”

“Tunggu. Setidaknya biarkan melihat wajah kalian. Tunggu, aku bahkan tidak tau ada peremupuan di kelompok kalian”

“Maaf, nak. Tapi sudah saatnya kami harus kembali” Tanpa banyak bicara lagi, dia melempar panah kecil ke arah tubuhnya. Tak lama, Arman mulai tidak sadarkan diri. “Kilat, kau urus dia. Mawar, kita bawa penjahat ini ke kantor polisi”

“Hahhhh….kenapa harus aku yang mengantar orang ini?”

“Sudahlah. Jangan banyak protes. Cepat sana lakukan” Dengan terpaksa, Kilat akhirnya menurut saja.

“Yah, apa orang tadi membawa sesuatu yang bisa terbakar?”

“Sepertinya tidak. Memangnya ada apa?”

“Lihat. Baju di bagian perut orang tadi ada bekas seperti terbakar. Padahal yang kita lihat dia cuma memukulnya, kan?”

“Ya. Ini memang cukup aneh. Tapi yang penting kita serahkan dua orang ini ke kantor polisi.”

Keesokan harinya, Arman terbangun di kamarnya. Kepalanya masih terasa pusing.

“Kamu ini habis ngapain, sih tadi semalam?”

“Engga ada kok, bu”

“Engga ada apa-apa, kok. Pulang sampai dibopong orang kayak gitu. Hayo, ngaku kamu”

“Engga ngapa-ngapain, kok. Beneran”

“Ya, sudah cepat sana mandi. Ini hari pertama masuk ke kampus baru, kan?”

“Untung diingetin” Walaupun belum pasti, aku tau kalau salah satu anggota The Raids itu yang membawaku ke rumah. “Aku mau bergabung dengan mereka”. Itulah tekad yang ada di hati dan kepalaku sekarang. Aku mau membantu mereka membuat kota ini aman dan nyaman seperti ayah dulu.

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s